Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pentingnya Pendidikan Social Media untuk Penanggulangan Gerakan Intoleransi

Konsep Pendidikan di Indonesia

Keberagaman dan keberbedaan adalah salah satu ciri Bangsa Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia berdiri karena adanya perbedaan. Sejarah telah mencatat dan menjadi bukti bahwa para pahlawan yang telah berjuang dengan mengorbankan harta, tahta bahkan nyawa adalah untuk memperjuangkan sebuah kemerdekaan. Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan 2 ratus juta penduduk sebagai penghuninya, dengan jumlah pulau dan sumber daya manusia yang melipah maka menjadikan Indonesia sebagai central pemasaran global dibidang ekonomi dan teknologi. Salah satu perkembangan yang sangat pesat pada abad 21 ini adalah kemajuan teknologi, semua negara berlomba untuk menciptakan teknologi canggih dalam melindungi kedaulatan dan masyarakatnya bahkan untuk persiapan akan persitiwa perang yang mungkin saja terjadi.

Pendidkan tidak hanya menjadi salah satu faktor penentu dalam kemajuan sebuah negara tetapi juga sebagai cara dan alat dalam berproses menuju negara maju yang berdaulat sesuai dengan pancasila dan UUD 1945. Pembacaan proklamasi kemerdekaan Republik Indoensia pada tahun 1945 telah menjadikan negara Indonesia mandiri untuk mengatur kedaulatan negaranya, termasuk untuk mengolah dalam memajukan pendidikan. Pekembangan negara dengan pemerintahan yang selalu berganti dalam kurun waktu 5 tahun sekali telah menjadikan negara Indonesia lebih matang dalam membuat kebijakan terkait pendidikan, berbagai sistem dan kurikulum telah diterapkan demi tercapainya masyarakat yang cerdas dan berilmu pengetahuan. Perkembangan pendidikan mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, hal ini dapat dilihat adanya penambahan mata pelajaran maupun mata kuliah guna mengisi keilman tentang persolan yang baru.

Pendidikan Social Media

Perkembangan teknologi di tandai dengan kemajuan alat dan kecanggihan perlengkapan perang maupun perlengkapan alat rumah tangga. Saat sekarang ini negara yang menjadi poros utama dalam kemajuan tekonogi adalah Amerika, Rusia, German dan China, hal ini juga diikuti oleh beberapa negara seperti Korea dan Iran yang menjadi perbincangan komunitas internasional terhadap nuklir yang mereka miliki. Teknologi tidak hanya menjadi penolong negara dan masyarakat dalam beraktifitas tetapi juga sebaagi ancaman terbesar dalam mengontrolnya, dengan kecanggihan teknologi maka akan berpeluang terjadi nya konflik terhadap pihak-pihak yang berkepentingan.

Kemajuan teknologi tidak hanya mempengaruhi perubahan alat tetapi juga merubah pandangan mengenai kemudahan komunikasi seperti terciptanya media sosial yang mempersingkat jarak yang jauh dan mempermudah komunikasi yang sulit. Bahkan ketergantungan terhadap media menjadikan mansuia lebih individualis dan konsumtif dalam mengolah dan mempergunakan alat tersebut, ketergantungan itu dibuktikan dengan ketingkatan emosional yang meningkat ketika hand phone (HP) hilang dan tidak jarang memunculkan tindakan yang yang mengarah kepada kekerasan anarkis. Perkembangan teknologi yang pesat maka perlu adanya penyeimbang dalam penggunaan teknologi tersebut, baik dari aspek pendidikan maupun kebijakan. Tanpa adanya penyeimbang maka akan berpeluang terjadi abuse of power dalam penggunaan teknologi tersebut.

Media sosial telah berkembang sangat pesat, berawal pada perkembangan nya tahun 90 an, hingga saat sekarang ini mengalami perbaikan dan perubahan yang membawa renovasi dan kreasi baru dalam teknologi tersebut maupun dalam penggunaannya. Media sosial pertama kali dikenal dengan SMS tanpa bisa mengeriamkan emote (memperlihtkan ekspresi wajah), tetapi dengan perubahan media sosial tersebut maka berkembang menjadi color message yang lebih berwarna dan menarik untuk dilihat dan digunakan. Perkembangan ini menjadi terlihat ketika adanya media lain yang muncul seperti Facebook (FB), Twitter, Instagram, Whatshap, Line, Skype, dll, hal ini membuktikan bahwa perkembangan alat komunikasi tidak bisa dihindari oleh manusia.

Perkembangan media komunikasi seperti yang di atas mengambarkan bahwa manusia tidak bisa melepaskan diri dari teknologi tersebut, oleh karena itu perlu ilmu dan pengetahuan untuk mengontrol media tersebut menajdi hal posotif yang dapat berguna untuk masyarakat. Tanpa pengontrolan yang efektif maka akan dapat memunculkan malapetaka bagi pengguna media tersebut dan orang orang yang terlibat dengan media tersebut, seperti adanya berita palsu maupun kalimat kalimat provokatif yang dapat membangkitkan semangat anarkisme dan memunculkan tindakan tindakan extrimisme dan kekerasan, Tindakan ini yang akan berpeluang terjadinya persekusi maupun tindakan tindakan keras lainnya.

Pesatnya perkembangan teknologi media sosial maka perlu keilmuan dan pendidikan mengenai tata cara dalam penggunaan media sosial tersebut. setiap perubahan yang baru tanpa adanya pengajaran maka akan memunculkan peluang terjadinya kesalahan fatal dan negatife effect terhadap pengguna tekonologi dan sosial media tersebut. Pendidikan sosial media dapat berupa kurikulum yang dibentuk dan diterapkan disetiap jenjang pendidikan ataupun seminar maupun workshop rutin yang di sampaikan kepada seluruh kalangan masyarakat.

Intoleransi

Tindakan extrimisme dan intoleransi tidak hanya sebagai tindakan yang dilarang tetapi juga merupakan perlakuan yang sangat kejam terhadap sesama manusia, pada hakikatnya tindakan dan prilaku ini telah melanggar HAM, oleh karena itu di Indonesia terdapat sanksi yang cukup berat dalam memberikan hukuman kepada yang melakukan tindakan tersebut (pelanggaran HAM). Kemunculan tindakan intoleransi maupun gerakan exsktrimisme ini muncul dari ketidaktahuan dan diperolehnya kesesatan informasi yang diterima oleh media sosial maupun media lainnya.

Perlakuan intoleransi tidak hanya merugikan objek yang diklaim sebagai intoleran tetapi juga berdampak pada masyarakat lain yang tidak maupun mengalami secara langsung, baik itu orang yang melakukan tindakan intoleran seperti persekusi ataupun diskriminasi. Bentuk yang tindakan maupun akibat terhadap orang orang yang melakukan tindakan tersebut adalah tindakan serupa balas dendam yang dilakukan oleh orang lain yang merasa tidak suka dan senag terhadap tindakan intoleran tersebut. dengan demikian maka akan memunculkan tindakan bekelanjutan terhadap tindakan awal intoleransi tersebut. 

Perkembangan media sosial tidak hanya membawa kemudahan tetapi juga sumber dari kemunculan tindakan tindakan intoleransi di masyarakat. Perlu cara dan penggunaan yang cerdas dalam mengelola media sosial dan dibutuhkan konsep pendidikan yang jelas terhadap penggunaan media sosial. Memperkenalkan media sosial kepada perserta didik sejak dini merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk mengajarkan anak, karena tanpa pengajaran dalam penggunaan yang positif maka akan memunculkan keterkejutan terhadap penggunaan media sosial di masa akan datang.

Tanpa pengajaran dan pendidkan social media yang diberikan maka akan memunculkan tindakan tindakan extrimis seperti persekusi oleh orang orang yang berkepentingan dan tidak bertanggung jawab, sebagaimana perkataan buya hamka “Pendidikan merupakan tonggak utama dalam pembangunan bangsa, sebagaimana halnya prinsip pengajaran walaupun pada dasarnya pengajaran dan pendidikan tidak dapat dipisahkan, bangsa yang hanya mementingkan pengajaran saja tiada mementingkan pendidikan untuk melatih budi pekerti meskipun kelak tercapai olehnya kemajuan, namun kepintaran dan kepandaian itu hanya akan menajdi racun bukan menjadi obat.[1] Tidankan intoleransi ini tidak hanya bertentangan dengan UU tetapi juga melangar norma masyarakat yang majmuk. Tindakan toleransi maupun intolerenasi akan mempunyai konsekuensi terhadap subjek pelaku maupun objek atas perlakuakn tersebut.

Ustad Abdul Somad Case

Salah satu kasus yang terjadi di Indoenisa dalam beberapa bulan terakhir ini adalah persekusi terhadap Ustad Abdul Somad yang dilakukan oleh beberapa ormas yang mengakui pancasilais. Tindakan ini menjadi preseden buruk terhadap sosial masyarakat kedepannya, hal ini dapat dilihat setelah kejadian tersebut adanya tindakan tindakan dan respon yang beragam dari berbagai kalangan, Mulai dari petinggi negeri ini yaitu ketua MPR RI, ketua partai, ketua ormas dan ulama ulama Indonesia. Kasus ini memperoleh titik terang dan pemahaman bahwa yang melakukan persekusi tersebut meminta maaf kepada Ustad Abdul Somad dengan dalih dan alasan bahwa tidak tau bahwa hal yang dituduhkan kepada Ustad Abdul Somad adalah salah. Ini merupakan salah satu contoh bahwa dalam mengambil kesimpulan tidak boleh hanya memperoleh pada satu informasi yang tidak lengkap dari medai sosial seperti facebook, whatsahhap, line maupun youtube.

Kasus persekusi ustad abdul somad meruakan gambaran terhadap kurangnya cara menggunakan sosial media dengan baik dan bijak. Akibatnya dari case ini tidak hanya berdampak kepada wilayah regional Bali teapi mempengaruhi sikap berbagai kalangan di seluruh tanah air, baik itu melakukan hal serupa maupun istilah balas dendam oleh beberapa oknum. Memberikan ilmu dan pengetahuan tentang sosial media tidak hanya bermanfaat kepada peserta didik dan pengajar tetapi jug bermanfaat kepada sistem pendidikan itu sendiri. 

Penerapan Konsep Pendidikan Sosial Media Dalam Penanggulangan Intoleransi

Kosep pendidikan sosial media memberikan manfaat kepada pengguna media sosial dan sekalgus memperbaiki sistem pendidikan nasional. Sistem pendidikan yang tidak mengikuti perkembangan zaman akan menjadi korban dari perkembangan itu sendiri, beberapa cara bijak dalam menggunakan media sosial yang harus di perhatikan adalah:

  • Mendapatkan sumber penyebar informasi secara lengkap dan falid.
  • Menggunakan bahasa yang santun dan bijak (tidak provokatif).
  • Memberikan klarifikasi yang lengkap terhadap tuduhan yang diperoleh.
  • Memperoleh data terkait informasi tersebut.
  •  Melakukan tindakan prefentif ketika akan terjadi sesusatu hal diluar kendali.

Mengantisipasi terjadinya ceos tidak hanya dengan mengajarkan bagimana penggunaan yang bijak dan baik tetapi juga dimasukkan konsep pendidikan social media kedalam sistem pendidikan itu sendiri. Seperti adanya mata pelajaran wajib maupun mata kuliah wajib mengenai sosial media, dengan demikian informasi social media tidak hanya menjadi konsumsi opini publik saja tetapi juga bisa dijadikan referensi dalam penulisan karya ilmiah. Dalam konsep ini lebih kurang mengatur 5 konsep dasar:

  • Mengajarkan cara menggunakan sosial media yang bijak.
  • Memanfaatkan media sebagai penyokong ekonomi yang baik dan benar.
  • Menerangkan keuntungan dan manfaat social media.
  • Menjadikan setiap case dan kasus yang terjadi sebagai teori pendidikan baru dalam menanggulangi perbuatan dimasa akan datang.
  • Memberikan doktrinisasi kebijaksanaan bersocial media.
  
                     ffan
f


[1]Editor Suwito dan Fauzan, 2003, Sejarah Pemikiran Para Tokoh Pendidikan, Angkasa, Bandung, hlm. 386. 

Posting Komentar untuk "Pentingnya Pendidikan Social Media untuk Penanggulangan Gerakan Intoleransi"